Jakarta (KABARIN) - Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mengimbau masyarakat agar tidak panik berlebihan (panic buying) saat membeli bahan bakar minyak (BBM) menjelang Lebaran, maupun di tengah situasi konflik Timur Tengah.
"Gunakan BBM secara bijak sesuai kebutuhan. Tidak perlu, 'panic buying' karena justru dapat mengganggu stabilitas pasokan," kata Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Mufti Mubarok saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Menurut Mufti, kepanikan justru berpotensi menciptakan kelangkaan semu di lapangan akibat distribusi tidak seimbang.
Mufti menilai pemerintah dan Pertamina telah berupaya memastikan ketersediaan BBM tetap aman selama arus mudik dan menjelang Idul Fitri 2026 ini.
Ia juga menyinggung terjadinya ketegangan di kawasan Timur Tengah itu telah menyebabkan terganggunya distribusi pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz dan membuat gejolak harga minyak mentah dunia.
Mufti mengatakan periode mudik ini memang telah menyebabkan terjadinya lonjakan mobilitas masyarakat secara signifikan.
"Maka itu, langkah pemerintah untuk memastikan jaminan pasokan stok energi nasional menjadi krusial," ucapnya.
Dia sangat berharap Pertamina mampu menjaga stabilitas stok sekaligus kelancaran distribusi ke seluruh wilayah nusantara, terutama di jalur-jalur utama pemudik maupun di daerah yang menjadi tujuan pemudik.
“Momentum mudik membutuhkan kesiapan ekstra, khususnya dalam menjaga ketersediaan BBM agar tetap aman dan mudah diakses masyarakat di berbagai titik perjalanan,” ucapnya.
Mufti juga menegaskan, kehadiran negara melalui BUMN energi menjadi kunci dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Kepastian pasokan, katanya, sangat penting agar aktivitas mudik dapat berlangsung tanpa banyak hambatan.
Di tengah dinamika global yang masih bergejolak, termasuk ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, maka Mufti mengajak masyarakat agar menyikapi secara wajar saja.
Menurutnya, pemerintah telah memiliki sistem pengamanan cadangan energi nasional yang cukup solid.
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Pemerintah bersama Pertamina memiliki mekanisme untuk menjaga ketahanan energi nasional tetap stabil,” katanya.
Penguatan distribusi
Selain itu, BPKN juga menyoroti pentingnya penguatan distribusi BBM di titik-titik krusial seperti jalan tol, jalur pantai utara jawa (pantura), serta lintas antarprovinsi yang diperkirakan akan mengalami kepadatan tinggi.
Kesiapan infrastruktur distribusi, katanya, faktor penting untuk mencegah antrean panjang di SPBU.
“Distribusi harus berjalan lancar dan merata, khususnya di jalur padat pemudik, agar perjalanan masyarakat tetap nyaman,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa stok BBM nasional masih cukup.
Ia mengatakan industri BBM dalam negeri dan impor masih akan terus berjalan, tak terlalu terpengaruh dengan adanya perang di Timur Tengah.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra.
Ia meminta agar masyarakat bijak membeli BBM dan LPG, sehingga tidak terjadi "panic buying".
Sebelumnya, pada berbagai kesempatan, pemerintah menjaga cadangan operasional BBM di kisaran 21 hingga 28 hari. Angka ini dinilai cukup untuk mengamankan distribusi selama masa Angkutan Lebaran 2026.
Untuk BBM jenis pertalite dan solar subsidi, ketahanan stoknya dijaga di atas batas minimum, yakni sekitar 16 hingga 17 hari.
Sedangkan, elpiji, cadangan nasional berada di level 15,6 hari (di atas standar minimal 11 hari).
Terakhir, untuk BBM jenis avtur, stoknya cukup untuk sekitar 23 hari guna mendukung peningkatan penerbangan.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026